Damailah Palestina

3 01 2009

Palestina
Negeri para Rasul dan para Nabi
Tempat suci umat Yahudi, Nasrani dan umat Islam
Jadi lambang kerukunan semua agama samawi

Tapi kini nasib mu
Sangat menyedihkan
Bumi mu panas tersiram darah
Penuh pembantaian dan penculikan

Wanita dan anak-anak yang tak berdosa
Menjadi korban ganasnya perang
Hampir punah
Oh Palestina

Damailah wahai umat Yahudi
Ingatlah petunjuk Allah dalam kitab suci Taurat

Damailah wahai umat Nasrani
Ingatlah petunjuk Allah dalam kitab suci Injil

Damailah wahai umat Islam
Ingatlah petunjuk Allah dalam Quran

Kembali lah pada Yang Maha Esa

Dunia jangan adu domba Palestina
Bantulah perdamian Palestina
DAMAILAH PALESTINA

note : diambil dari lirik lagu Qasidah nya Nasida Ria





Ibumu, ibumu, ibumu dan bapakmu

22 12 2008

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah SAW dan bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berhak aku hormati?” Beliau menjawab, “Ibumu!” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Rasul menjawab lagi, “Ibumu!” Ia balik bertanya, “Siapa lagi?” Rasul kembali menjawab, “Ibumu!” Ia kembali bertanya, “Lalu siapa lagi?” Beliau menjawab, “Bapakmu!”

[Bukhari-Muslim]

Berbahagialah rekan-rekan yang masih memiliki ibu. Berbaktilah. Pergunakanlah kesempatan ini untuk mendapatkan ridhanya dan juga ridha Alloh.

Dan karena ibu saya sudah dipanggil Yang Kuasa, saya hanya bisa berdo’a. Ya Alloh, ampunilah kesalahan dan dosa ibu hamba. Lapangkan lah kubur ibu hamba. Terima lah ibu hamba di sisi-MU. Tempatkan lah ibu hamba di sorga-MU.

“Allahummaghfirlahaa warhamhaa wa’aafihaa wa’fu ‘anhaa waj’al jannata matswaahaa. Amiin Yaa Robbal Aalamiin”.

Selamat hari ibu (bagi yang merayakan)





Selamat Jalan Ibu

6 12 2008

Kemarin, 1 Desember 2008 jam 23.30 malem, ibu menghembuskan nafas terakhir. Begitu mendadak. Sangat mendadak malah, karena pagi sampai siang harinya, ibu masih di pasar dan berdagang seperti biasa.

Sekitar jam 14.30, adik sepupu telpon minta saya pulang kantor secepatnya. Panic, cemas. Telpon boss, minta ijin pulang. Mencoba nego agar bisa diantar sopir kantor, gagal.
“nanti jemputan yang harus jalan jam setengah enam bagaimana? kacau nanti!” begitu alasan nya. Oh God.

Terpaksa, lari-lari ke jalan raya, nunggu bus umum. Hampir jam setengah empat, baru ada bus Cikarang-Bogor yang lewat ke arah UKI. Ya Alloh, rasa nya lambat sekali bus yang saya tumpangi ini. Berkali-kali sepupu saya telpon tanya sudah sampai mana. Sepanjang perjalanan saya cuma bisa menangis. Sampai di UKI nyari tukang ojek biar bisa lebih cepat sampe ke rumah sakit.

Jam lima sore saya sampai di RS AL Mintohardjo. Langsung lari ke UGD. Sakit sekali rasanya liat tubuh ibu terbaring lemah dengan selang infus dan tabung oksigen. Mencoba tanya ke suster mengenai kondisi ibu, katanya ibu pingsan karena tensi darah nya tinggi sekali. Seratus delapan puluh per sekian. Entah apa artinya saya kurang begitu paham.

Sekitar jam 6-an sore, dilakukan CT Scan dan rontgen. Selesai CT Scan dan rontgen, ibu di bawa ke ruang rawat inap. Hasil CT Scan keluar, saya pun dipanggil ke ruang dokter.

“Kondisi ibu berat”
“Ada pendarahan di otak ibu”

Degh!!….…..rasa nya nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Ya..Alloh, sembuhkan lah ibu saya.

Jam tujuh malem dokter memeriksa lagi kondisi ibu. Menanyakan riwayat sakit ibu dan keluhan-keluhan yang dirasakan ibu sebelum nya. Dokter juga menuliskan beberapa resep obat yang akan dipakai untuk perawatan ibu. Setelah beberapa obat dari dokter diberikan, kondisi ibu mulai stabil walaupun sampai saat itu masih belum sadar.

Setengah sebelas malem, saudara-saudara sepupu saya suruh pulang untuk istirahat, cukup saya, pak lik dan bu lik saja yang jaga, karena kondisi ibu juga sudah cukup stabil. Sekitar jam 23.20 an malem, kondisi ibu tiba-tiba memburuk. Nafasnya mulai agak berat walaupun badan ibu sangat tenang layak nya sedang tidur. Somehow I know, her time is almost over. Sambil menangis saya coba tuntun ibu dengan kalimat “Laa Ilaaha Illallah, Muhammadarrasuulullah”.

Kurang lebih jam setengah dua belas malem, ibu pergi untuk selamanya. Innalillaahi Wa Inna Ilaihi Roojiuun. Sesungguhnya semua berasal dari Alloh, dan hanya kepada-NYA semua akan kembali.

Jam satu dinihari 2 Desember 2008, jenazah ibu saya bawa ke Tanah Abang. Tetangga-tetangga di Tanah Abang memang ingin agar ibu di semayamkan dulu di Tanah Abang, sebelum di bawa ke Pekalongan. Di depan gang menuju ke rumah sudah ramai tetangga yang menunggu. Tak ingin menunggu lebih lama lagi, jam tiga pagi itu jenazah ibu saya berangkatkan ke Pekalongan.

Meledak tangis keluarga dan tetangga di Pekalongan, manakala ambulance yang membawa jenazah ibu berhenti di depan rumah. Kakek dan nenek saya histeris saat keranda jenazah ibu dikeluarkan dari ambulance. Saya mencoba untuk tegar, tapi tak urung saya limbung dan dipapah masuk ke rumah.

Sebelum dibawa ke musholla untuk disholatkan, saya diizinkan untuk melihat jenazah dan muka ibu untuk yang terakhir kali. Bersih sekali muka ibu dalam balutan kain kafan putih itu. Laksana tertidur, tenang sekali. Ya Alloh, hamba tahu rumus dunia, semua harus berpisah. Walaupun hamba ingin lebih lama lagi bersama ibu, kehendak-MU tak mungkin hamba tolak. Hamba memohon kepada-MU Yaa Alloh, ampunilah kesalahan dan dosa ibu hamba. Lapangkan lah kubur ibu hamba. Terima lah ibu hamba di sisi-MU. Tempatkan lah ibu hamba di sorga-MU. Amiin Yaa Robbal Aalamiin.

Dan rintik gerimis pun mengiringi jenazah ibu turun ke liang lahat. Selamat jalan ibu. Lelapkan tidurmu. Doa putramu senantiasa kan menyertaimu.

Diam terlelap di iring isak
Tinggalkan dunia, sisipkan duka
Menghadap Ilahi, sisipkan sepi

Tersenyumlah dari atas sana
Awasi aku menapak dunia
Hingga waktu berjumpa bersama

Pekalongan, 3 Desember 2008





Harapan dan Keinginan [a.k.a] Resolusi 2008

31 12 2007

Untuk menutup tahun, seperti biasa saya ikut-ikutan gegeran rame-rame bikin resolusi untuk tahun depan. Norak sih sebenarnya, soalnya sering kali malah hanya sedikit sekali dari list yang akhirnya bisa saya wujudkan. Kurang kerja keras? Mungkin….

Walaupun kadang hal-hal yang nggak saya tulis malah “mak bedunduk” bisa dengan mudah saya dapatkan, saya nggak kapok untuk nulis resolusi (lagi). Dengan menulis resolusi semacam ini, harapan saya, semoga bisa jadi semacam kompas bagi saya untuk mengarungi belantara kehidupan di tahun depan. Halah.
:D

Jadi, beginilah sebagian doa, harapan dan keinginan saya di tahun depan;

1. Lebih banyak sedekah, walaupun nominal nya mungkin nggak bisa besar, tapi harus lumayan buat bekal di alam sono.
2. Belajar satu bahasa pemrograman (Visual Basic.NET, C atau Java?)
3. Nabung lebih banyak setiap bulannya dibanding tahun kemarin. Lumayan kan buat belanja belanji dan lain sebagainya…
4. Lebih sehat dan bugar plus nambah berat badan. Ya..ya..saya memang kurus langsing, terlalu kurus langsing malah. Mesti fitness mungkin??. **lirik dumble**
5. Belajar salah satu alat musik, sepertinya asyik. (Piano, organ, keyboard, pianika atau biola?).
6. Nerusin resolusi tahun kemarin yang belum terwujud. **ngubek-ubek arsip**

Yak…sementara itu saja dulu ah harapan dan keinginan saya untuk tahun depan. Etapi masih bisa nambah ding, siapa tahu ntar ada keinginan yang “mak bedunduk” muncul.
:D