Kemarin, 1 Desember 2008 jam 23.30 malem, ibu menghembuskan nafas terakhir. Begitu mendadak. Sangat mendadak malah, karena pagi sampai siang harinya, ibu masih di pasar dan berdagang seperti biasa.
Sekitar jam 14.30, adik sepupu telpon minta saya pulang kantor secepatnya. Panic, cemas. Telpon boss, minta ijin pulang. Mencoba nego agar bisa diantar sopir kantor, gagal.
“nanti jemputan yang harus jalan jam setengah enam bagaimana? kacau nanti!” begitu alasan nya. Oh God.
Terpaksa, lari-lari ke jalan raya, nunggu bus umum. Hampir jam setengah empat, baru ada bus Cikarang-Bogor yang lewat ke arah UKI. Ya Alloh, rasa nya lambat sekali bus yang saya tumpangi ini. Berkali-kali sepupu saya telpon tanya sudah sampai mana. Sepanjang perjalanan saya cuma bisa menangis. Sampai di UKI nyari tukang ojek biar bisa lebih cepat sampe ke rumah sakit.
Jam lima sore saya sampai di RS AL Mintohardjo. Langsung lari ke UGD. Sakit sekali rasanya liat tubuh ibu terbaring lemah dengan selang infus dan tabung oksigen. Mencoba tanya ke suster mengenai kondisi ibu, katanya ibu pingsan karena tensi darah nya tinggi sekali. Seratus delapan puluh per sekian. Entah apa artinya saya kurang begitu paham.
Sekitar jam 6-an sore, dilakukan CT Scan dan rontgen. Selesai CT Scan dan rontgen, ibu di bawa ke ruang rawat inap. Hasil CT Scan keluar, saya pun dipanggil ke ruang dokter.
“Kondisi ibu berat”
“Ada pendarahan di otak ibu”
Degh!!….…..rasa nya nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Ya..Alloh, sembuhkan lah ibu saya.
Jam tujuh malem dokter memeriksa lagi kondisi ibu. Menanyakan riwayat sakit ibu dan keluhan-keluhan yang dirasakan ibu sebelum nya. Dokter juga menuliskan beberapa resep obat yang akan dipakai untuk perawatan ibu. Setelah beberapa obat dari dokter diberikan, kondisi ibu mulai stabil walaupun sampai saat itu masih belum sadar.
Setengah sebelas malem, saudara-saudara sepupu saya suruh pulang untuk istirahat, cukup saya, pak lik dan bu lik saja yang jaga, karena kondisi ibu juga sudah cukup stabil. Sekitar jam 23.20 an malem, kondisi ibu tiba-tiba memburuk. Nafasnya mulai agak berat walaupun badan ibu sangat tenang layak nya sedang tidur. Somehow I know, her time is almost over. Sambil menangis saya coba tuntun ibu dengan kalimat “Laa Ilaaha Illallah, Muhammadarrasuulullah”.
Kurang lebih jam setengah dua belas malem, ibu pergi untuk selamanya. Innalillaahi Wa Inna Ilaihi Roojiuun. Sesungguhnya semua berasal dari Alloh, dan hanya kepada-NYA semua akan kembali.
Jam satu dinihari 2 Desember 2008, jenazah ibu saya bawa ke Tanah Abang. Tetangga-tetangga di Tanah Abang memang ingin agar ibu di semayamkan dulu di Tanah Abang, sebelum di bawa ke Pekalongan. Di depan gang menuju ke rumah sudah ramai tetangga yang menunggu. Tak ingin menunggu lebih lama lagi, jam tiga pagi itu jenazah ibu saya berangkatkan ke Pekalongan.
Meledak tangis keluarga dan tetangga di Pekalongan, manakala ambulance yang membawa jenazah ibu berhenti di depan rumah. Kakek dan nenek saya histeris saat keranda jenazah ibu dikeluarkan dari ambulance. Saya mencoba untuk tegar, tapi tak urung saya limbung dan dipapah masuk ke rumah.
Sebelum dibawa ke musholla untuk disholatkan, saya diizinkan untuk melihat jenazah dan muka ibu untuk yang terakhir kali. Bersih sekali muka ibu dalam balutan kain kafan putih itu. Laksana tertidur, tenang sekali. Ya Alloh, hamba tahu rumus dunia, semua harus berpisah. Walaupun hamba ingin lebih lama lagi bersama ibu, kehendak-MU tak mungkin hamba tolak. Hamba memohon kepada-MU Yaa Alloh, ampunilah kesalahan dan dosa ibu hamba. Lapangkan lah kubur ibu hamba. Terima lah ibu hamba di sisi-MU. Tempatkan lah ibu hamba di sorga-MU. Amiin Yaa Robbal Aalamiin.
Dan rintik gerimis pun mengiringi jenazah ibu turun ke liang lahat. Selamat jalan ibu. Lelapkan tidurmu. Doa putramu senantiasa kan menyertaimu.
Diam terlelap di iring isak
Tinggalkan dunia, sisipkan duka
Menghadap Ilahi, sisipkan sepi
Tersenyumlah dari atas sana
Awasi aku menapak dunia
Hingga waktu berjumpa bersama
Pekalongan, 3 Desember 2008